Senin, 09 Maret 2015

MEMBANGUN KOMITMEN DALAM MENEJEMEN KELAS



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Iklim kelas yang kondusif , nyaman, dan terkendali  adalah keinginan setiap guru. Agar apa yang disampaikannya dimengerti dan diterima oleh siswa. Untuk menciptakan kondisi yang nyaman dan terkendali tersebut, diperlukan adanya komitmen atau disiplin antara siswa dan guru. Agar terciptanya disiplin tersebut, maka diperlukan adanya kontrak belajar antara siswa dan guru di awal pembelajaran.
Siswa sebagai anak didik dan objek dari proses pendidikan memiliki suatu kewajiban  yang  harus  dilaksanakan  yaitu  siswa  dituntut  untuk  bertingkah  laku sesuai dengan norma-norma yang ada. Di samping itu siswa juga dituntut untuk mentaati tata tertib sekolah di dalam menuju keberhasilan proses belajar mengajar, membentuk karakteristik siswa agar disiplin dan bertanggungjawab.
Tujuan disiplin di sekolah adalah efektifitas proses belajar mengajar, maka perilaku yang dianggap mendukung proses belajar mengajar dianggap masalah disiplin. Kenyataan di lapangan sering terjadi pelanggaran terhadap peraturan yang ada di sekolah, masih banyak siswa yang bertingkah laku kurang baik dan kurang benar serta tidak dapat mengendalikan dorongan dirinya yang selalu berubah-ubah, sehingga pihak sekolah sulit untuk melakukan pembinaan disiplin kepada siswa.

B.     Tujuan penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah mengetahui bagaimana konsep disiplin atau komitmen itu sendiri dan bagaimana menciptakan kontrak pembelajaran dalam kelas itu sendiri


BAB II
MEMBANGUN KOMITMEN DALAM MENEJEMEN KELAS
A.    Konsep Disiplin
1.      Pengertian Disiplin
Disiplin merupakan sesuatu yang berkenaan dengan pengendalian diri seseorang terhadap bentuk-bentuk aturan. Peraturan dimaksud dapat ditetapkan oleh orang yang bersangkutan maupun yang berasal dari luar. Didalam pembucaraan disiplin ini kita mengenal dua istilah yang pengertiannya hampir sama  tetapi terbentuknya satu sama lain merupakan suatu urutan. Berikut dikemukakan pendapat para ahli tentang makna disiplin:
a.       Ametembun (1981)
Mengemukakan bahwa disiplin merupakan siatu keadaan tertib dimana para pengikut tunduk dengan senang hati pada ajaran pemimpinya.
b.      Hadari nawawi (1985)
Menyebutkan disiplin atau tata tertib diartikan sebagai kesediaan mematuhi ketentuan berupa peraturan-peraturan yang secara eksplisit perlu juga mencakup sanksi-sanksi yang akan diterima jika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan tersebut.
c.       Soegeng prijodarminto (1992)
Mengatakan bahwa disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian prilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan kesetiaan, ketentraman, keteraturan dan ketertiban.[1]

Dari beberapa pengertian yang diungkapakan diatas tampak bahwa disiplin pada dasarnya merupakan tindakan manajemen untuk mendorong agar para anggota dalam sebuah organisasi atau kumpulan dapat memenuhi berbagai ketentuan dan peratuuran yang berlaku dalam suatu organisasi, yang didalamnya mencakup :
a.       Adanya tata tertib atau ketentuan-ketentuan
b.      Adanya kepatuhan para pengikut
c.       Adanya sangsi bagi pelanggar
Kepatuhan dan ketertiban siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang berlaku disekolahnya itu dapat disebut disiplin siswa. Sedangkan peraturan, tata tertib dan berbagai ketentuan lainya yang berupaya mengatur perilaku siswa disebut disiplin sekolah. Disiplin sekolah adalah upaya sekolah untuk memelihara perilaku siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendoronng siswa untuk berperilaku sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlku disekolah. Tujuan disiplin sekolah, menurut Maman Rachman adalah, :
a.       Memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang
b.      Mendorong siswa melakukan yang baik dan benar
c.       Membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan     lingkungan dan menjauhi hal yang dilarang oleh sekolah
d.      Siswa belajar hidup dengan kebiasan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat baginya dan lingkunganya.[2]
Dalam hal disiplin, seorang guru ditekankan untuk melakukan pendekatan positif tentang disiplin,dengan menitikberatkan hubungan antar manusia yang serasi dalam kelas itu. Usaha ini dilakukan sebagai langkah untuk menciptakan situasi belajar efektif.

2.      Bentuk-Bentuk Disiplin
Starawaji menyatakan bahwa bentuk-bentuk disiplin terdiri dari:
a.         Disiplin menggunakan waktu
Maksudnya bisa menggunakan dan membagi waktu dengan baik,
karena waktu amat berharga dan salah satu kunci kesuksesan adalah dengan bisa menggunakan waktu dengan baik
b.        Disiplin dalam beribadah
Maksudnya  ialah  senantiasa  beribadah  dengan  peraturan- peraturan yang terdapat didalamnya. Disiplin dalam beribadah amat dibutuhkan, Allah SWT senantiasa menganjurkan manusia untuk disiplin.
c.         Disiplin dalam masyarakat
d.        Disiplin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.[3]
Dari pemaparan bentuk-bentuk disiplin diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, siswa di sekolah maupun dimasyarakat harus mampu meletakkan segala sesuatu ditempatnya, siswa harus disiplin dimana saja kapan saja baik itu disekolah, di masyarakat, karena disiplin termasuk salah satu kunci untuk mengapai sukses.

3.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Disiplin
Aptorinan menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi disiplin adalah:
a.         Faktor diri sendiri, kedisiplinan seorang individu itu dapat dipengaruhi oleh individu     itu                 sendiri.     Sikap              seseorang                yang    melaksanakan kedisiplinan itu dipengaruhi oleh keinginannya sendiri dan datang dari dalam diri siswa tersebut.
b.        Faktor  keluarga,  siswa  yang  terbiasa  dengan  keluarga  yang  disiplin, maka dalam melaksanakan kegiatan dilingkungan sekolahnya akan berjalan sesuai dengan aturan. Namun begitu juga sebaliknya, dimana siswa yang hidup dalam keluarga yang tanpa aturan dan keluarga yang bebas, maka siswa akan bertindak sesuai dengan keinginan hatinya.
c.         Faktor          pergaulan    dilingkungan,    kedisiplinan    seseorang    itu    juga
dipengaruhi oleh pergaulan dilingkungannya, dimana dan dengan siapa ia bergaul maka akan mempengaruhi terhadap sikap dan perilaku yang ditimbulkan oleh peserta didik. Seorang siswa tidak akan terlepas dari lingkungan masyarakat, oleh karena itu sedikit banyaknya akan berpengaruh baik itu positif  maupun negatif.[4]

Menurut  Crow  and Crow  siswa yang kurang disiplin  dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
a.         Faktor Psikologik
Yang termasuk faktor psikologi adalah gangguan kesehatan, gangguan  kelenjar,  dan  gangguan  psikis  dapat  mempengaruhi  sikap anak, yang dapat mengganggu terciptanya suasana berdisiplin sekolah.
b.        Faktor perorangan
Tidak jarang bahwa sikap seorang anak tidak sesuai dengan standar yang berlaku di sekolah.Beberapa sifat seperti itu adalah acuh tak acuh, mementingkan diri sendiri, menirukan kelakuan tak baik maupun terlalu mengucilkan diri sendiri. Sikap tersebut kesemuanya bila dibiarkan akan banyak siswa yang bersikap kurang disiplin.
c.         Faktor sosial
Dalam kehidupan berkelompok akan timbul pengaruh sosial pada sikap seseorang,       walaupun                    individu         tersebut        jarang         untuk memahaminya. Pendidik perlu berusaha mengikuti perkembangan sikap anak. Dalam kehidupan berkelompok setidak-tidaknya dikenal tiga kebutuhan yaitu kebutuhan akan pengakuan orang lain, kebutuhan aktualisasi diri, dan kebutuhan kebebasan dalam bertindak.
d.        Faktor lingkungan
Faktor  lingkungan   juga  mempengaruhi   kedisiplinan   seseorang. Dalam hal ini situasi lingkungan akan mempengaruhi proses dan hasil pendidikan, serta situasi lingkungan seperti sekolah, keluarga dan masyarakat.[5]

B.     Urgensi Disiplin di Lingkungan Sekolah
Urgensi disiplin menurut Brown dan Brown dalam proses pendidikan dan pembelajaran yaitu:
1.        Rasa hormat terhadap otoritas/kewenangan.
Disiplin akan menyadarkan  setiap siswa tentang kedudukannya, baik di kelas maupun  di luar kelas, misalnya  kedudukannya  sebagai siswa yang harus hormat terhadap guru dan kepala sekolah.
2.        Upaya untuk menanamkan kerjasama.
Disiplin dalam proses belajar mengajar dapat dijadikan  sebagai upaya untuk menanamkan kerjasama, baik antara siswa, siswa dengan guru, maupun siswa dengan lingkungannya.
3.        Kebutuhan untuk berorganisasi.
Disiplin dapat dijadikan sebagai upaya untuk menanamkan dalam diri setiap siswa mengenai kebutuhan berorganisasi.
4.        Rasa hormat terhadap orang lain.
Dengan ada dan dijunjung tingginya disiplin dalam proses belajar, setiap siswa akan tahu dan memahami tentang hak dan kewajibannya, serta akan menghormati dan menghargai hak dan kewajiban orang lain.
5.        Kebutuhan untuk melakukan hal yang tidak menyenangkan.
Dalam  kehidupan  selalu  dijumpai  hal yang  menyenangkan  dan
yang tidak menyenangkan. Melalui disiplin siswa dipersiapkan  untuk mampu  menghadapi  hal-hal  yang  kurang  atau  tidak  menyenangkan dalam kehidupan pada umumnya dan dalam proses belajar pada khususnya.
6.        Memperkenalkan contoh perilaku tidak disiplin.
Dengan            memberikan     contoh    perilaku     yang    tidak     disiplin
diharapkan siswa dapat menghindarinya atau dapat membedakan mana perilaku disiplin dan yang tidak disiplin.[6]

C.     Upaya Meningkatkan Kedisiplinan
Reismen  dan  Payne  dalam  buku  E.  Mulyasa  mengemukakan  strategi umum untuk mendisiplinkan peserta didik yaitu:
1.        Konsep  diri  (self-concept);  strategi  ini  menekankan  bahwa  konsep- konsep  dari  masing-masing  individu  merupakan  faktor  penting  dari setiap perilaku. Untuk menumbuhkan konsep diri, guru disarankan bersikap empatik, menerima, hangat dan terbuka, sehingga peserta didik dapat mengeksplorasikan  pikran dan perasaannya dalam memecahkan masalah.
2.        Keterampilan  berkomunikasi  (communication  skill);  guru  harus memiliki   keterampilan   berkomunikasi   yang   efektif   agar   mampu menerima semua perasaan, dan mendorong timbulnya kepatuhan peserta didik.
Konsekuensi-konsekuensi  logis  dan  alami  (natural  and  logical concequences); perilaku-perilaku yang salah terjadi karena peserta didik telah mengembangkan kepercayaan yang salah terhdap dirinya. Hal ini mendorong munculnya  perilaku-perilaku salah. Untuk itu, guru disarankan:
a.         menunjukkan   secara tepat tujuan perilaku yang salah, sehingga membantu peserta didik dalam mengatasi perilakunya.
b.         memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari perilaku yang salah.
3.        Klasifikasi nilai (values clarification); strategi ini dilakukan untuk membantu   peserta  didik  dalam  menjawab   pertanyaannya                                                      sendiri tentang nilai-nilai dan membentuk system nilainya sendiri.
4.        Analisis transaksional, (Transacsional analysis); disarankan agar guru
belajar sebagai orang dewasa, terutama apabila berhadapan dengan peserta didik yang menghadapi masalah.
5.        Terapi realitas (reality terapi); sekolah harus berupaya mengurangi kegagalan dan meningkatkan keterlibatan. Dalam hal ini guru harus bersikap positif dan beranggungjawab.
6.        Disiplin yang terintegrasi (assertive disciline); metode ini menekankan pengendalian        penuh           oleh      guru      untuk    mengembangkan          dan mempertahkan peraturan. Prinsip-prinsip modifikasi perilaku yang sistematik  diimplemnetasikan  di  kelas,  termasuk  pemanfaatan  papan tulis untuk menuliskan nama-nma peserta didik yang beperilaku menyimpang.
7.        Modifikasi perilaku (behavior modificcation); perilaku salah disebabkan oleh lingkungan, sebagai tindakkan remediasi sehubungan dengan hal tersebut, dalam pembelajaran perlu diciptakan kondisi yang kondusif
8.        Tantanangn  bagi  disiplin  (dare  dicipline);  guru  diharapkan  cekatan, sangat tertorganisasi dan dalam pengendalian yang tegas. Pendapat mengasusmsikan bahwa peserta didik akan mengalami keterbtasn pada hari-hari pertama di sekolah, dan guru perlu membiarkan mereka untuk mengetahui   siapa   siapa   yang   berada   dalam   posisi   sebagai   kotapemimpin.[7]

Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa dalam meningkatkan disiplin siswa, guru berperan penting dalam membuat para siswa disiplin. Guru harus mampu menanamkan nilai kedisiplinan tersebut dalam diri siswa sehingga peraturan yang telah dibuat dapat berjalan dengan baik. Guru juga berperan penting dalam menciptakan suasana kelas yan kondusif dan efektif.
Mendisain peraturan dalam pengelolaan kelas merupakan suatu hal yang dapat menciptakan pembelajaran yang kondusif dan efektif. Seharusnya peraturan yang di disain di bahas bersama-sama dengan peserta didik bahkan bisa diserahkan kepada peserta didik sehingga akan timbul kesadaran pada diri peserta didik karena peraturan yang akan dilanggar merupakan kesepakatan dia sendiri. Maka jika dia melanggar dia akan menjalani hukuman dengan kesadarannya sendiri, dan hendaknya hukuman yang diberikan bersifat mendidik dan education. Dan menghilangkan hukuman yang dengan kekerasan, yang menimbulkan kekesalan kepada siswa dan tidak ada manfaatnya bagi siswa. Ini merupakan salah satu contoh mendisiplinkan siswa terhadap peraturan yang telah dibuat.


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Pembiasaan disiplin pada diri anak penting karena dengan disiplin dapat memantapkan peran social anak.Orang yang terlatih disiplin akan lebih besar kemungkinannya meraih keberhasilan ketimbang orang yang tidak disiplin. Dalam penanaman disiplin perlu peran orang tua di rumah maupun guru di sekolah. Dalam pendisiplinan anak, banyak aspek-aspek yang berkaitan, di antaranya adalah menyangkut peran orang tua dan guru dalam pendisiplinan anak, penyesuaian diri anak dan penerimaan lingkungan pada anak. Disiplin dapat dikatakan sebagai alat pendidikan bagi anak, sebab dengandisiplin anak dapat membentuk sikap teratur dan mentaati norma aturan yang ada
            Jika anak sudah disiplin dalam melakukan suatu hal, maka guru pun tidak payah lagi dalam pengelolaan kelas, karena siswa telah sadar akan tanggung jawabnya sebagai seorang siswa. Dan akan mendukungf kelancaran proses belajar mengajar.

B.     SARAN
Penuis berharab makalah ini dapat dijadikan pedoan bagi para pembaca hal perkuliahan, dan jga makalah ini dapat dijadikan bahan kuliah dalam mengikuti perkuliahan  manajemen kelas.







.






[1] http://MEMBANGUN KOMITMEN DALAM KEGIATAN PENGELOLAAN KELAS _ Kadri Bonjoly's Blog.htm
[2] http://MEMBANGUN KOMITMEN DALAM KEGIATAN PENGELOLAAN KELAS _ Kadri Bonjoly's Blog.htm
[3] Starawaji, Pengertian , ( 14 Desember 2010)

[4] Aptorinan,           “Kedisiplinan         Penting dalam     Proses    Pendidikan            di             Sekolah”, http://syopian.net/blog/?=623html(14 Desember 2010)

[5] Crow and Crow, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Rake Sarasin PO Bok 83, 1990), cet 2,hal 144



6 Sutrisno, Disiplin, ( 26 Desember 2010)

[7] E. Mulyasa,  Implementasi  Kurikuum  2004 panduan  pembelajaran  KBK, (Bandung:  PT Remaja
Rosdakarya Offset, 2004), hal. 21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar